Adsens

Jumat, 30 Desember 2016

Makalah Perangan Diponegoro

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Setelah kekalahannya dalam Peperangan era Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.
Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton.
Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. Namun Belanda tetap memasang patok-patok tersebut bahkan yang sudah jatuh sekalipun. Karena kesal, Pangeran Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak.
Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro membakar habis kediaman Pangeran.
Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.
Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa penyebab terjadinya perang diponegoro?
2.      Siapakah sosok Pangeran Diponegoro sebagai tokoh sentral dalam perang diponegoro?
3.      Bagaimana Jalannya perang diponegoro?
4.      Bagaimana Taktik perang diponegoro?
5.      Bagaimana akhir dari perang diponegoro?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusuna makalah ini adalah :
1)            Mengetahui siapa pangeran Diponegoro
2)            Mengetahui sebab-sebab meletusnya perang Diponegoro
3)            Mengetahui jalannya perang Diponegoro dan akhir perang Diponegoro.
4)            Sebagai pemenuhan atas tugas mata pelajaran Sejarah Indonesi di Sekolah.




BAB II 
PEMBAHASAN

2.1    Sebab terjadinya Perang Diponegoro
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya Perang Diponegoro. Sebab-sebab tersebut antara lain
a.         Sebab Umum
Kekuasaan dan wibawa raja-raja di Jawa Tengah semakin merosot karena daerah kekuasaannya semakin berkurang. Kaum bangsawan merasa dikurangi haknya, tanah-tanah yang mereka sewakan kepada pihak swasta Eropa telah diambil alih oleh pemerintah kolonial. Akibatnya, mereka harus mengembalikan uang persekot yang telah diterimanya. Kaum bangsawan kemudian diangkat menjadi pegawai kolonial dengan mendapatkan gaji.
Rakyat mempunyai beban yang sangat berat dalam hidupnya, seperti kerja rodi dan membayar pajak tanah. Disamping itu, juga terdapat pemungutan pajak yang diborongkan kepada orang-orang Cina. Pemungutan yang dilakukan bersifat memeras dan menjadi beban buat rakyat.
b.         Sebab Khusus
Sebab khusus Perang Diponegoro adalah pembuatan jalan yang melalui tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Pembuatan jalan itu dilaksanakan oleh Patih Danurejo IV sebagai kaki tangan bangsa Belanda. Patok-patok yang dipasang atas perintah Patih Danurejo IV dicabut oleh pasukan pangeran diponegoro. Pemasangan dan pencabutan patok-patok tanda pembuatan jalan itu telah terjadi berulang kali. akhirnya Pangeran Diponegoro memerintahkan agar patok-patok itu diganti dengan tombak sebagai pernyataan perang.
Sementara itu, pihak Belanda tidak menginginkan terjadinya perang. Pihak Belanda mengirim Pangeran Mangkubumi (Paman Pangeran Diponegoro) untuk membujuk Pangeran Diponegoro agar mau bertemu dengan Residen Belanda di rumah dinasnya. Pangeran Diponegoro menolak, karena telah mengetahui maksud Belanda. Ketika pembicaraan antara Pangeran Mangkubumi dengan Pangeran Diponegoro sedang berlangsung, tiba-tiba pihak Belanda melancarkan serangan. Serangan pihak Belanda itulah yang menjadi awal dari Perang Diponegoro.
2.2  Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro (1785-1855) adalah putra Sultan Hamengkubuwono III dari selir Raden Ayu Mengkarawati-putri Bupati Pacitan. Semenjak kecil, diasuh oleh neneknya, Ratu Ageng di Tegalrejo. Sebuah tempat tinggal yang terpencil yang letaknya beberapa kilometer dari istana Yogyakarta.Disana dia memasuki lingkungan-lingkungan pesantren dan tidak mau menghadap istana yang tidak disukainya karena banyak persengkongkolan, kemerosotan akhlak, pelanggaran susila, dan pengaruh barat yang bersifat merusak.
Sekitar tahun 1805 pangeran diponegoro mengalami sebuah kejadian spiritual ,dia bermimpi bahwa dia adalah calon raja yang mempunyai tugas bahwa dia harus memasuki zaman kehancuran yang harus mensucikanya. Setelah 20 tahun menantikan wkatu yang baik,sementara situasi di jawa bertambah buruk . Pada tahun 1820 mulai terjadi pemberontakan –pemberontakan kecil.

2.3    Jalannya Perang
Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantrikavaleri dan artileri (yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal) di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh-puluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan di dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan sedang berkecamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha-usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malariadisentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak", melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando Pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu di mana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metode perang gerilya (guerrilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan (Surpressing). Perang ini bukan merupakan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) di mana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829Kyai Modjo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjomenyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Berakhirnya Perang Jawa merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.

2.4    Taktik Perang Diponogoro
Karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat.
Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Dipanegara. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.

2.5    Akhir Perang Diponegoro
Tahun 1829 merupakan tahun kemunduran bagi Diponegoro. Di tahun itu pula Diponegoro sudah tidak pernah mengadakan ofensif lagi dan justru inisiatif serangan beralih ke tangan Belanda. Pengikut Diponegoro banyak yang menyerah kepada Belanda karena sudah tidak kuat dengan cobaan dan perang gerilya.
Sementara itu Pangeran Diponegoro dapat menembus kepungan Belanda di Pengasih dan melarikan diri ke Kedu. Daerah Kedu adalah daerah yang bergunung-gunung sehingga memudahkan Diponegoro melakukan gerilya dan menyusahkan Belanda dalam bergerak. Tetapi de Kock segera membangun benteng-benteng untuk mengepung daerah Kedu sehingga gerakan Diponegoro dapat dibatasi.Pengepungan atas Kedu ini membuat Diponegoro dan pengikutnya hidup dalam keprihatinan yang luar biasa walaupun masih tetap melanjutkan perang gerilya.Banyak pemimpin perang Diponegoro yang menyerahkan diri pada Belanda.
Sementara pada tahun 1829 pula terjadi pergantian kepemimpinan di Hidia-Belanda. Komisaris Gubernur Jenderal Du Bus yang menjalankan pemerintahan sejak Van Der Capellen mengundurkan diri pada tahun 1826 digantikan oleh Johaness Van den Bosch. Di tubuh militer sendiri terjadi rotasi pergantian, De Kock diangkat sebagai panglima militer untuk seluruh Hindia-Belanda, dan sebagai panglima tentara Belanda di Jawa daingkat Mayor Jenderal Benjamin Bisschof. Tetapi sebelum menunaikan tugasnya Bisschof meninggal karena sakit. Kemudian kepada gubernur jenderal De Kock meminta agar tetap dipercaya memimpin langsung penumpasan terhadap Diponegoro.
Di tahun 1829, Diponegoro kembali pada taktik perang gerilya. Berkat perubahan taktik ini Diponegoro mampu kembali menguasai Bagelen, sebagian sungai progo, sebagian sungai bogowonto, dan Banyumas. Ini semua berkat taktik gerilya Gusti Bei yang brilian.De Kock membalas gerakan Pasukan Diponegoro ini dengan sebuah serangan cepat dan kuat. Segera Bagelen direbut, Sungai Bogowonto diseberangi dari Timur ke Barat. Selanjutnya serangan dilanjutkan ke Ledok dan Karangkobar.
Dua daerah itu dipertahankan oleh Imam Musbah. Dalam serangan ini Belanda memakai pasukan pribumi dari Sulawesi Utara, Maluku, Bali dan pasukan Belanda sendiri. Kemudian pasukan Belanda bergerak ke Boyolali-Kanigoro. Mereka lalu bergabung dengan pasukan Kasunanan Surakarta. Kedua pasukan ini segera menyerang pasukan Diponegoro yang dipimpin oleh Adipati Urawan dan Pangeran Sumonegoro. Pasukan Diponegoro berhasil didesak, sementara itu Adipati Danu memimpin 200 orang pasukan Diponegoro bermaksud membantu pasukan Adipati Urawan dan Pangeran Sumonegoro. Pasukan Bulkiya pimpinan Haji Usman juga ikut serta bergerak untuk memberi bantuan. Tidak ketinggalan pula Gusti Basah (putra Diponegoro) bersama pasukannya turut bergerak memberi bantuan.
Di lain pihak, pasukan bantuan Belanda dari Magelang turut bergerak memberi bantuan. Sementara dari Yogyakarta bergerak pasukan Yogyakarta dan Belanda, dari Surakarta juga bergerak Legioen Mangkunegaran. Pasukan Belanda berjumlah 3000 orang sedangkan gabungan pasukan Diponegoro berjumlah 5000 orang bertemu di Desa Genjuran. Meletuslah pertempuran sengit. Walaupun Belanda tidak bisa dikatakan menang tetapi lebih banyak prajurit Diponegoro tewas dalam pertempuran ini, bahkan komandan pasukan Bulkiya yaitu Haji Usman tewas.Pada tanggal 30 April 1829 terjadi pertempuran di RawaGenda. Basah Prawirokusumo terkena pecahan meriam dan lumpuh dalam serangan Belanda itu. Sementara Tumenggung Banyak Wedi menyerah pada pimpinan pasukan Belanda (Kapten Busseheus).
Pada tanggal 17 Juli 1829, markas Gusti Bei di Desa Geger diserang. Gudang dan pabrik amunisi pasukan Diponegoro turut diratakan. Gusti Bei yang terluka melarikan diri sementara Raden Joyonegoro meneruskan perlawanan sampai dia mati. Dengan direbutnya Geger maka suply amunisi pasukan Diponegoro sangat terganggu.
Pada 30 Juli 1829, Letkol. Sollevipu memimpin pasukan menyerang sebuah desa yang dicurigai sebagai markas pasukan Diponegoro. Dalam sergapan itu berhasil ditangkap Raden Hasa Mahmud dan Pangeran Anom Diponegoro (putra tertua Pangeran Diponegoro). Belanda mengancam akan membunuh Anom Diponegoro jika Diponegoro tidak menyerah. Tetapi ancaman ini tidak digubris. Akhirnya Anom Diponegoro tidak dibunuh.
Tanggal 31 Juli, istri Pangeran Mangkubumi, putranya Raden Mas Wiryokusumo, Raden Mas Wiryoatmojo dan Raden Mas Surdi menyerah pada Belanda. Belanda kemudian meminta kepada Pangeran Mangkubumi untuk menyerah dan memberitahukan letak persembunyian keluarga Pangeran Diponegoro dan keluarga para panglima perlawanan yang lain, tetapi tuntutan itu tidak dijawab. Seperti kita ketahui bahwa Pangeran Mangkubumi adalah pimpinan pasukan Jogokaryo yang bertanggung jawab atas keamanan keluarga Pangeran Diponegoro dan keluarga para panglima perang lain.
Pada bulan September 1829, Tumenggung Wonorejo, Tumenggung Wiryodirjo dan ratusan pengikutnya menyerah pada Belanda menyusul kemudian Tumenggung Surodeksono, Pangeran Pakuningrat beserta pengikut-pengikutnya. Dan Raden Ayu Anom (istri kedua Pangeran Mangkubumi) juga menyerah beserta 50 orang pengikutnya.Pada tanggal 28 September 1829, Pangeran Mangkubumi akhirnya menyerah setelah keluarga-keluarga panglima perang yang dilindunginya dikembalikan pada Pangeran Diponegoro. Pada tanggal 30 September 1829, pukulan kembali terjadi. Gusti Bei dan kedua putranya Joyokusumo dan Harnokusumo disergap oleh Belanda di Desa Sangir dan mereka semua gugur.
Satu-satunya senopati perang Pangeran Diponegoro yang tak terkalahkan hanyalah Sentot. Tetapi walaupun masih ditakuti kondisi pasukan Sentot sendiri mengkhawatirkan karena kekurangan bahan makanan dan terputus jalur logistiknya. Akhirnya dengan perantaraan Bupati Madiun, Belanda melakukan perundingan dengan Sentot. Sentot bersedia menyerah dengan syarat sebagai berikut :
a.          Diberi uang sebesar 10.000 Ringgit
b.         Tetap memimpin pasukan Pinilih nya
c.          Diberi 500 pucuk senapan.
d.         Tetap memeluk agama Islam
e.          Sentot dan pasukannya tetap diijinkan memakai surban
Belanda memenuhi permintaan Sentot itu. Akhirnya pada tanggal 17 Oktober 1829 Sentot menyerah pada Belanda di Imogiri. Pada tanggal 24 Oktober 1829 Sentot dan pasukannya masuk ke Yogyakarta, ketika melewati jalan-jalan kota Yogyakarta banyak rakyat duduk bersimpuh dan menyembah sebagai tanda penghormatannya. Sentot kemudian menghadap Sultan Hamengkubuwono V di kraton.Oleh Belanda Sentot diberi pangkat Mayoor Cavalerie dengan gaji 100 ringgit per bulan.





BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Dari penjelasan  dalam bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Pangeran Diponegoro merupakan putra pertama Sri Sultan Hamengkubuwono II sehingga tidak lain lagi beliau adalah Sri Sultan Hamengkubuwono III sekaligus pewaris tahta kerajaan di Yogyakarta. Walaupun Pangeran Diponegoro adalah putera seorang raja, beliau tidak senang tinggal di istana, karena adanya pengaruh dari Belanda. Karena Pengaruh dari Belanda membawa dampak yang sangat besar baik di kalangan keraton maupun di kalangan rakyat biasa. Oleh sebab itulah beliau tidak suka tinggal di istana. Adapun pengaruh yang kurang baik diantaranya :
a.         Adat istiadat banyak yang dilanggar.
b.        Ajaran agama diabaikan.
c.         Uang dihambur-hamburkan untuk pesta.
Hal tersebut berakibat hidup rakyat menderita, tanah mereka dirampas oleh Belanda dan mereka harus membayar bermacam-macam pajak. Hal itu tentu saja sangat merugikan masyarakat setempat. Oleh karena itu Diponegoro berniat untuk melawan kekuasaan Belanda yang sangat sewenang-wenang terhadap rakyat. Selain itu ada berbagai macam sebab, baik sebab umum ataupun khusus untuk melawan kekuasaan Belanda di tanah jawa. Sebab umum tersebut antara lain, Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok tanah milik Pangeran Diponegoro di Desa Tegalrejo. Pada saat itu memang Pangeran Diponegoro sudah membenci kelakuan Belanda karena Belanda selalu ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan di Yogyakarta. Adapun sebab khususnya adalah sebagai berikut:
1)        Belanda akan membuat jalan raya yang melewati makam leluhur Diponegoro  tanpa meminta izin terlebih dahulu.
2)        Pangeran Diponegoro mencabuti patok-patok yang telah ditancapkan oleh Belanda.
Akibatnya Pangeran Diponegoro beserta rakyat bergabung untuk melawan dan mengusir Belanda dari tanah Jawa. Walaupun demikian Pemerintah Belanda tetap bersikeras untuk bertahan di tanah Jawa serta melakukan perlawanan terhadap Pangeran Diponegoro. Namun Pangeran Dipenegoro memiliki taktik untuk bisa mengalahkan Pemerintah Belanda. Taktik perang tersebut adalah taktik perang Gerilya.
Taktik gerilya membawa keuntungan dan kemenangan. Walaupun saat itu Belanda telah menggunakan senjata modern. Bahwa perilaku yang luhur Pangeran Diponegoro menimbulkan simpati baik di kalangan bangsawan sampai di kalangan rakyat jelata, yang akhirnya mereka bersatu untuk melawan Belanda. Mereka sangat bersemangat dalam mengusir Belanda bahkan nyawa dipertaruhkan untuk bisa mengusir Belanda. Harga diri dan kehormatan keluarga adalah segala-galanya bagi Pangeran Diponegoro. Namun tipu muslihat dan kelicikan Belanda menyeret Pangeran Diponegoro ke meja perundingan, sekaligus pengasingan beliau, sampai ajal menjemputnya.

3.2 Saran
Saran kami melalui  makalah ini kita harus selalu mengenang dan menghargai perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang sudah memperjuangkan nyawa dan hidupnya untuk membela negeri kita dari para penjajah.
Dalam penulisan makalah ini juga lami menyadari bahwa masih banyak kekurangannya atau masih jauh dari kesempurnaannya seperti yang diharapkan oleh karena itu kritik dan saran baik itu dari bapak/Ibu Guru maupun rekan siswa/siswi yang bersifat konstruktif sangat diharapkan guna memperbaiki penulisan lebih lanjut.







DAFTAR PUSTAKA

http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2014/09/sebab-umum-dan-sebab-khusus-perang.html



Makalah Lembaga Internasional

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk ciptaan ALLAH SWT di bumi. Yang menerima amanat-Nya untuk bisa menjadi pemimpin mulai dari dirinya sendiri sampai menjadi pemimpin untuk sebuah organisasi. Organisasi internasional merupakan sebagai suatu struktur formal dan berkelanjutan yang dibentuk atas suatu kesepakatan antar anggota-anggota (pemerintah dan non pemerintah) dari dua atau lebih negara berdaulat dengan tujuan untuk mengejar kepentingan bersama para anggotanya. Lebih lanjut, upaya mendefinsikan suatu organisasi internasional harus melihat tujuan yang ingin dicapai, institusi-institusi yang ada, suatu proses perkiraan peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah terhadap hubungan antara suatu negara dengan aktor-aktor non negara.
Keberhasilan suatu organisasi internasional dapat dilihat dari kebijakan dan cara untuk mengimplementasikannya. Keberhasilan di bidang ini tergantung dari sikap otonomi organisasi dan kepercayaan anggota atas kepemimpinan politis organisasi tersebut, tetapi yang paling penting adalah persepsi dari pemerintah negara anggota tentang seberapa jauh bantuan maupun kebijakan yang dikembangkan oleh organisasi yang akan sesuai dengan kepentingan nasional mereka. Oleh sebab itu anggota dapat mendorong ataupun menghalangi perkembangan bantuan ataupun kebijakan yang dilakukan oleh organisasi sesuai dengan penilaian mereka dengan mempertimbangkan untung dan ruginya bagi kepentingan nasional negara tersebut.
Bila pengembangan bantuan dan kebijakan tertentu oleh organisasi dipandang berguna oleh pemerintah negara anggota atau bila organisasi telah memiliki semacam otonomi yang meningkat dan mengatur dengan kuat masalah kebijakan yang spesifik dan fungsional, maka perumusan kebijakan tersebut akan dapat berjalan tanpa campur tangan yang spesifik dari negara anggota, dan keberhasilan implementasinya akan bergantung dari seberapa baik bantuan maupun kebijakan tersebut dapat diterima oleh negara yang bersangkutan. Selanjutnya, tanggapan dari negara anggota atas isu yang menjadi tujuan dari bantuan maupun kebijakan organisasi adalah variabel yang signifikan bagi pengembangan keberhasilan hasil kinerja. Hal ini khususnya dalam kasus dimana implementasi kebijakan membutuhkan tindakan dari anggota organisasi. 

1.2         Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran IPS Terpadu, menambah pengetahuan dan wawasan terhadap perilaku organisasi, dan bermanfaat untuk penulis khususnya dan umumnya bagi semuanya.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perkembangan Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang semula bernama Organisasi Konferensi Islam dibentuk dalam pertemuan tingkat tinggi yang diadakan di Rabat, Maroko, pada tanggal 25 September 1967. Pertemuan ini muncul sebagai reaksi atas aksi yang terjadi di Masjid Al-Aqsa – Jerussalem. OKI merupakan satu-satunya organisasi antar negara yang mewakili umat Islam dunia. Organisasi ini beranggotakan 57 negara termasuk Indonesia, yang mencakup tiga kawasan yaitu Asia dan Afrika.
Pada tanggal 6 Februari 2013 kemarin, terjadi KTT OKI ke 12 di Mesir. Dengan mengambil tema “The Muslim World: New Challeges and Expanding Opportunities”, OKI bertekad untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan integrasi di berbagai aspek seperti ekonomi, ilmu pengetahuan, dan pertanian (www.presidenri.go.id).
Saat ini negara-negara OKI menghadapi masalah yang cukup pelik, baik dalam hal ekonomi, politik, kesehatan, maupun pendidikan. Handi Risza Idris,  Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia menyatakan jika negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI memiliki potensi sangat besar dalam memimpin reformasi sistem ekonomi dan keuangan dunia. Dengan memiliki visi bersama dan semangat kerja sama yang tinggi diharapkan negara Islam akan dapat menjadi kekuatan penyeimbang baru dalam percaturan ekonomi internasional yang sekarang didominasi oleh AS, Uni Eropa, Jepang, dan Cina. Dengan potensi jumlah populasi 19 persen dari total penduduk dunia atau sekitar 1,9 miliar populasi, menguasai 77 persen cadangan minyak dunia, cukup untuk kebutuhan 75 tahun mendatang. Selain itu, 90 persen cadangan hidrokarbon dunia berada di dunia Islam. Tetapi sangat disayangkan sampai saat ini OKI melum memperlihatkan tanda-tanda atau sikap yang strategis bagi kemajuan dunia Islam dan internasional (Republika, 3/11/2008).
Dunia politik negara OKI-pun masih banyak terjadi goncangan. Konflik berkepanjangan di Palestina, Suriah, Mali, termasuk situasi kaum Muslim Rohingya di Myanmar menunjukkan bahwa negara Islam dan kaum muslim masih belum bisa merdeka dalam arti yang sebenarnya. Dalam hal ini, OKI-pun masih belum bisa berbuat banyak dalam membebaskan negara-negara yang berjibaku dengan penjajah maupun penguasa tirani. OKI masih belum memiliki keberanian yang cukup untuk menghadapi Amerika Serikat, Israel dan sekutunya yang banyak menimbulkan kekacauan di Timur Tengah yang mayoritas adalah anggota OKI. Fenomena meningkatnya Islamophobia, ekstrimisme dan intoleransi.
1.        Isu Intelektual dan Politik
a.   Political Will
Mendesak negara-negara anggota untuk menerapkan sepenuhnya ketentuan dari piagam dan resolusi OKI.
b.   Solidaritas dan aksi bersama
Menunjukkan komitmen dan kredibilitas yang kuat dalam aksi bersama umat Islam dalam menghadapi tantangan dan ancaman yang dihadapi umat Islam, termasuk didalamnya memberikan dukungan moril maupun materiil terhadap negara Islam yang berada dalam ancaman. Selain itu penting bagi OKI untuk berpartisipasi secara aktif dalam forum nasional maupun internasional guna melindungi kepentingan kolektif umat Islam, termasuk reformasi PBB, memperluas keamanan keanggotaan dewan, dan menggalang dukungan bagi negara OKI yang mencalonkan dalam forum Internasional. Yang terakhir, terus mendukung isu Al Quds yang menjadi penyebab utama berdirinya OKI dan sebagai alat pemersatu umat.
c.   Islam- Agama Moderat yang Toleran
Akhir-akhir ini Islam sering terpojok dalam kancah dunia internasional, sehingga salah satu tujuan OKI adalah mengembalikan citra Islam sebagai agama moderat yang toleran dengan menyebarkan isu-isu yang benar mengenai Islam, membentengi umat Islam dari ekstrimisme, mengutuk ekstrimisme dan segala bentuk manifestasinya karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan manusia, menghadapi konflik politik, sosial dan budaya dengan rasionalitas, persuasive, dan nasihat yang baik, serta menekankan dialog antar-peradaban dan agama dengan menekankan rasa saling menghormati dan menghargai, melakukan pengajaran yang baik dalam bidang agama, sosial, budaya, politik serta memanfaatkan media massa sebagai media pembela umat Islam.
d.   Keberagaman Hukum Islam
Perbedaan dalam Islam merupakan hal yang wajar. Akan tetapi harus disikapi dengan bijaksana supaya tidak terjadi perpecahan. Dalam mensiasati masalah ini OKI merumuskan beberapa petunjuk, yaitu: Seseorang yang selama dia beriman kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW maka dia wajib dilindungi dan tidak dianggap sesat, menolak fatwa dari orang yang tidak memenuhi syarat untuk mengeluarkan fatwa, sehingga tidak ada kemungkinan untuk munculnya fatwa yang sesat. Sehingga hal yang telah dirumuskan tersebut bisa menjaga keutuhan ditengah keberagaman hukum Islam di masyarakat.
e.   Akademi Fiqh Islam (IFA)
Akademi ini ditunjuk oleh OKI untuk mengoordinasikan fatwa di dunia Muslim, menghindari sifat fanatic berlebihan dalam umat sehingga mudah menuduh kelompok lain sesat, membantah fatwa yang dikeluarkan dari orang tidak bertanggung jawab yang menuduh Islam melenceng jauh dari fitrah awalnya.
f.    Memerangi Terorisme
OKI mengecam terorisme dan segala bentuknya, serta menolak rasionalisasi dan pembenaran atas tindakan terror yang dilakukan, menegaskan komitmen OKI untuk memberantas segala tindak terorisme serta memberikan dukungan bagi dunia untuk memberantas terorisme.
g.   Memerangi Islamophobia
OKI menghimbau semua negara anggotanya untuk menghormati semua agama dan memerangi pencemaran nama baik mereka, memantau segala bentuk Islamophobia, membangun kerjasaam dengan pemerintah dan LSM untuk melawan Islamophobia, serta meminta PBB untuk bersama-sama melawan Islamophobia. Penduduk Muslim pun juga harus menampilkan citra yang baik sebagai Muslim kepada siapa saja.
h.   Hak Asasi Manusia dan Good Governance
OKI berusaha untuk memperbesar ruang lingkup partisipasi politik, menjamin kesetaraan, kebebasan sipil dan keadilan sosial dan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, dan menghilangkan korupsi di negara-negara anggota. Mengupayakan untuk membentuk suatu badan independen yang bertujuan untuk memajukan hak asasi negara anggota sesuai dengan Deklarasi Kairo tentang Hak Asasi manusia dalam Islam, bekerja sama dengan dunia internasional untuk menjamin hak-hak minoritas dan masyarakat di negara-negara OKI.
i.    Palestina dan Wilayah Arab Terjajah
Palestina dan Arab Spring menjadi topic yang sedang hangat dibicarakan. OKI berupaya untuk mengakhiri kedudukan Israel di Palestina dan memberikan dukungan bagi negara-negara Timur Tengah yang sedang terjadi konflik.
j.      Pencegahan Konflik, Resolusi Konflik, dan Pembangunan Perdamaian Pasca Konflik
OKI berperan besar dalam mencegah terjadinya konflik di negara anggota dengan melindungi hak-hak negara anggota, serta melakukan restrukturisasi dan rehabilitasi pasca konflik.
2.        Pengembangan, Isu sosial-ekonomi, dan Ilmiah
a.   Kerjasama Ekonomi
Ada beberapa poin yang dianggap penting dalam bidang ekonomi, diantaranya: OKI menyerukan kepada negara anggota untuk menandatangani dan meratifikasi seluruh perdagangan dan perjanjian ekonomi yang ada, melaksanakan ketentuan rencana OKI ynag relevan untuk memperkuat kerjasama negara anggota, mempromosikan langkah-langkah untuk memperkuat perdagangan intra OKI, mempertimbangkan untuk membangun Free Trade Area antara negara OKI untuk mengintegrasikan volume ekonomi yang besar, meningkatkan kerjasama dengan organisasi ekonomi dunia, menyerukan negara anggota untuk memfasilitasi gerak investor, memperkuat kamar dagang di masing-masing negara, dan menyerukan kepada negara anggota untuk mengoordinasikan kebijakan yang diambil oleh organisasi internasional supaya tidak berdampak buruk bagi ekonomi mereka.
b.   Mendukung Islamic Development Bank (IDB)
Kaitannya dengan IDB, OKI memiliki rencana strategis bagi negara anggota, yaitu membentuk dana khusus dalam IDB dalam rangka mengatasi dan mengentaskan kemiskinan negara anggota, peluang kerja dan mekanisme pembayarannya, kerjasama antara IDB dengan OKI untuk membuat kontrak kerjasama dengan WHO untuk memerangi penyakit di negara OKI dan dibiayai melalui dana khusus yang dihimpun IDB, meminta IDB untuk mengembangkan mekanisme dan program yang bertujuan untuk kerjasama dengan swasta, serta meminta IDB untuk mempromosikan peluang investasi dan perdagangan intra OKI.  
c.   Solidaritas Sosial dalam Menghadapi Bencana
Islam mengajarkan untuk saling tolong menolong sesama manusia. Begitu pula dengan anggota OKI yang sering terkena bencana alam, maka anggota lainnya dihimbau untuk membantu negara yang terkena bencana alam.
d.   Mendukung Pengentasan Kemiskinan di Afrika
Kemiskinan dan kesehatan di Afrika perlu mendapat perhatian lebih. Oleh karena itu OKI menghimbau negara anggota untuk bersama-sama membantu negara Afrika dengan mendorong industrialisasi, investasi, dan transfer teknologi untuk mengentaskan kemiskinan, selain itu juga mendesak negara-negara anggota donor untuk membatalkan utang bilateral dan multilateral untuk negara berpenghasilan rendah, mendesak organisasi internasional untuk mengerahkan upaya yang lebih besar dalam mengentaskan kemiskinan.
e.   Pendidikan, Sains, dan Teknologi
Efektif menciptakan dan mereformasi lembaga-lembaga pendidikan dan kurikulum di semua jenjang pendidikan, meningkatkan program pengembangan dan penelitian dengan mengaggarkan 2% dari PDB, mendorong lembaga penelitian untuk berinvesatasi dalam membangun teknologi canggih seperti nuklir, meningkatkan wakaf bagi universitas di negara anggota, meminta IDB untuk menambah jumlah beasiswa mahasiswa berprestasi di bidang IPTEK.
f.    Hak Perempuan, Remaja, Anak, dan Keluarga di Dunia Islam
Memperkuat hukum yang ditujukan untuk kemajuan perempuan muslim dengan meningkatkan pendidikan, politik, sosial, melindungi hak perempuan dan menjaganya dari diskriminasi, menyediakan pendidikan gratis bagi semua anak, membuat hukum yang menjamin keberlangsungan hidup anak dan melindungi mereka dari eksploitasi, mengajak negara anggota untuk memperbanyak forum kepemudaan, menyeru OKI untuk mensyiarkan Islam sebagai agama yang melindungi hak semua manusia.
g.   Pertukaran Budaya dan Informasi antar Negara Anggota
Menyeru negara anggota untuk melek informasi dan perkembangannya di seluruh dunia, serta berpartisipasi dalam mendukung solidaritas digital yang memungkinkan OKI untuk secara aktif berpartisipasi dalam upaya mengurangi kesenjangan digital.
Alternatif Kebijakan
Irfan Syauqi Beik, guru besar FEM IPB dan peneliti Baznas mengemukakan bahwa zakat bisa dijadikan solusi bagi permasalahan ekonomi negara-negara OKI (Media Indonesia, 4/2/2013). Irfan juga menambahkan bahwa Jika potensi zakat dunia yang mencapai angka Rp 6 ribu trilyun ini dapat direalisasikan, maka akan ada tambahan dana Rp 17,05 juta yang dapat digunakan untuk membebaskan 1 orang miskin setiap tahunnya. 
Akan tetapi zakat tidak serta merta bisa memperbaiki masalah di negara OKI, perlu adanya komitmen dari pemerintah untuk benar-benar mengumpulkan dan mendistribusikan zakat secara adil dan merata sesuai tuntunan syariah, disamping itu juga perlu kesadaran lebih dalam masyarakat kaya untuk membayar zakat yang menjadi kewajibannya. Dengan demikian sinergi yang terbangun antara pemerintah dan masyarakat akan membuat potensi zakat terserap dengan baik dan membantu mengentaskan kemiskinan serta masalah sosial lain di negara OKI. 
Lebih lanjut Beik mengatakan bahwa diperlukan adanya kelembagaan zakat yang amanah, profesional, dan terintegrasi. Selanjutnya diperlukan adanya komitmen untuk melakukan kerjasama lintas negara, terutama dari sisi penyaluran zakat. Tanpa adanya komitmen ini, mustahil optimalisasi zakat pada level global akan terjadi. Disinilah pentingnya peran OKI dalam memfasilitasi penguatan kerjasama tersebut.

2.2    Peran Indonesia dalam OKI
Beberapa peran aktif Indonesia di OKI yang menonjol adalah ketika pada tahun 1993 Indonesia menerima mandat sebagai ketua Committee of Six, yang bertugas memfasilitasi perundingan damai antara Moro National Liberation Front (MNLF) dengan pemerintah Filipina. Kemudian pada tahun 1996, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Menteri (KTM-OKI) ke-24 di Jakarta.
Selain itu, Indonesia juga memberikan kontribusi untuk mereformasi OKI sebagai wadah untuk menjawab tantangan umat Islam memasuki abad ke-21. Pada penyelenggaraan KTT OKI ke-14 di Dakar Senegal, Indonesia mendukung pelaksanaan OIC's Ten-Year Plan of Action. Dengan diadopsinya piagam ini, Indonesia memiliki ruang untuk lebih berperan dalam memastikan implementasi reformasi OKI tersebut. Indonesia berkomitmen dalam menjamin kebebasan, toleransi dan harmonisasi serta memberikan bukti nyata akan keselarasan Islam, demokrasi dan modernitas.
Bagi Indonesia, OKI merupakan wahana untuk menunjukkan citra Islam yang santun dan moderat. Sebagaimana yang ditunjukkan Indonesia pada dunia internasional dalam pelaksanaan reformasi 1998 serta kemampuan Indonesia melewati transisi menuju negara yang demokratis melalui penyelenggarakan pemilihan umum legislatif ataupun pemilihan presiden secara langsung yang berjalan dengan relatif baik. Pengalaman Indonesia tersebut dapat dijadikan rujukan bagi negara-negara anggota OKI lainnya, khususnya negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara yang sedang mengalami proses demokratisasi.

2.3    Partisipasi Lembaga-Lembaga Regional dalam Kerja Sama Internasional
1.        Konferensi Asia Afrika
Pemerintah Indonesia berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika(KAA) pada tanggal 18-24 April 1955 di Bandung. Keberhasilan itu merupakan suatu prestasi besar karena diselenggarakan di tengah-tengah maraknya gerakan separatis dan keadaan pemerintahan yang tidak stabil.Penyelenggaraan KAA didasarkan pada beberapa kejadian yang melandadunia, sekaligus sebagai latar belakang pelaksanaan KAA sebagai berikut:
Ø  Pertentangan antara Blok Barat (kapitalis) dan Blok Timur (komunis) yang mengancam ketertiban dan perdamaian dunia.
Ø  Sebagian besar negara-negara Asia dan Afrika yang menjadi korban
Ø  Imperialisme-kolonialisme negara-negara Barat.
Ø  Perlunya kerjasama antara negara-negara Asia dan Afrika dalam menghadapi masalah pembangunan ekonomi, sosial, pendidikan, dan kebudayaan.
Ø  Pelaksanaan politik aparheid (diskriminasi) di beberap negara, terutama di Afrika Selatan.
Pada tanggal 25 Agustus 1953, PM Ali Sastroamidjojo menyatakan pentingnya kerjasama negara-negara Asia dan Afrika di depan DPR. Kerja sama itu akan memperkuat usaha ke arah terciptanya perdamaian dunia yang kekal. Kerjsama antara negara-negara Asia dan Afrika tersebut sesuai dengan aturan-aturan PBB. Pernyataan Ali Sastroamdjojo tersebut mencerminkan bahwa prakarsi penyelenggaraan KAA adalah Indonesia. Ide tersebut mendapat sambutan yang positif dari negara-negara India, Pakistan, Sri Langka, dan Birma (Myanmar). Kelima negara itu, kemudian menjadi sponsor penyelenggaraan KAA.
2.        ASEAN  (The Association of South East Asia Nations )
merupakan organisasi regional yang mewadahi kerjasama bangsa-bangsa di Asia Tenggara dalam berbagai bidang kehidupan. Kesadaran bangsa-bangsa Asia Tenggara akan pentingnyasolidaritas dan kerjasama di antara sesame mereka. Kesamaan sikap dan tindakkan diharapkan dapat menciptakan perdamaian, kemajuan, dan kemakmuran di Asia Tenggara. Itulah, salah satu faktor yangmendorong lahirnya ASEAN. Saat ini, ASEAN beranggotakan sepuluhnegara di Asia Tenggara, yakni: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Mungthai, Brunei, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam. ASEAN didirikan berdasarkan Deklarasi Bangkok yang dicetuskan pada tanggal 8 Agustus 1967. Deklarasi Bangkok ditandatangani oleh lima orang utusan, yaitu:
 Adam Malik, Menlu Indonesia.
-  Tun Abdul Razak, Wakil Perdana Menteri Malaysia.
-  Sinatambi Rajaratman, Menlu Singapura.
-  Narsico Ramos, Menlu Pilipinan.
- Thanat Khoman, Menlu Muangthai.
Kelima negara tersebut dikenal sebagai pendiri ASEAN dan sebagai anggota pertama. Sekarang jumlah anggota ASEAN telah bertambah menjadi 10 negara. Arti.
Faktor-faktor yang mendorong terbentuknya ASEAN adalah karena adanya persamaan dalam beberapa hal, seperti:
a.       Persamaan letak geografis di Asia Tenggara,
b.      Persamaan budaya, yaitu budaya Melayu Austronesia.
c.       Persamaan nasib sebagai bangsa-bangsa yang pernah dijajah bangsa asing.
d.      Persamaan kepentingan untuk menjalin hubungan dan kerjasama di bidang ekonomi, sosial, dan kebudayaan.
Sejak tahun 1999, kesepuluh negara Asia Tenggara telah menjadi anggota ASEAN secara resmi. Rincian pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
a.       Brunei Barussalam menjadi anggota ASEAN sejak 7 Januari 1984, satu minggu setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris.
b.      Vietnam menjadi anggota ASEAN sejak 28 Juli 1995.
c.       Laos dan Myanmar menjadi anggota ASEAN sejak 30 Nopember 1996.
d.      Kamboja menjadi anggota ASEAN sejak 30 April 1999.
Adapun tujuan ASEAN sebagai organisasi regional adalah sebagai berikut:
1.        Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan kebuayaan melalui usaha-usaha bersama berdasarkan semangat kebersamaan, persekutuan, dan hidup damai di kalangan bangsa-bangsa di Asia Tenggara.
2.        Memajukan perdamaian dan stabilitas regional dengan jalan saling menghormati keadilan dan tata tertib hukum dalam hubungan antar Negara di Asia Tenggara, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip Piagam PBB.
3.        Meningkatkan kerjasama secara aktif dan saling membantu dalam hal-hal yang menjadi kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, kebudayaam, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi.
4.        Memberikan bantuan satu sama lain dalam fasilitas-fasilitas latihan dan penelitian di sektor-sektor pendidikan, profesi, teknik, dan administrasi.
5.        Bekerja sama secara efektif dalam memanfaatkan potensi pertanian dan industri, perluasan perdagangan (termasuk studi tentang masalah-masalah perdagangan internasional), perbaikan fasilitas-fasilitas komunikasi, serta dalam memajukan taraf hidup rakyat di masing-masing negara.
6.        meningkatkan studi mengenai Asia Tenggara.
7.        Bekerja sama secara erat dan saling menguntungkan dengan organisasi internasional dan regional yang memiliki maksud dan tujuan yang sama, serta berusaha mempererat kerjasama antar negara-negara ASEAN.
Untuk mencapai tujuan tersebut, ASEAN telah melakukan beberapa kali Konferensi Tingkat Tinggi (KTT). Sampai tahun 2003, ASEAN telah melaksanakan 9 kali KTT.
a.     KTT I di Denpasar, tanggal 23-24 Februari 1976.
b.     KTT II di Kualalumpur, tanggal 4-5 Agustus 1977.
c.     KTT III di Manila, tanggal 14-15 Desember 1987.
d.     KTT IV di Singapura, tanggal 27-28 Januari 1992.
e.     KTT V di Bangkok, tanggal 14-15 Desember 1995.
f.     KTT VI di Hanoi, tanggal 15-16 Desember 1998.
g.     KTT VII di Singapura, tanggal 24-25 Nopember 2000.
h.     KTT VIII di Bandar Sri Begawan, tanggal 5-6 Nopember 2001.
i.      KTT IX di Denpasar, tanggal 7-8 Oktober 2003.





BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan
OKI sebagai satu-satunya organisasi yang mewadahi negara-negara Islam di dunia diharapkan mampu menaikkan posisi tawar negara Islam dalam kancah dunia internasional. Dengan komitmen dari semua pihak dalam menjalankan semua piagam dan resolusi serta program yang telah dibuat, diharapkan mampu membawa kegemilangan Islam di masa lampau.
Sampai ini kerjasama ASEAN sangat menguntungkan bagi para anggotanya. Beberapa bidang kerjasama yang masih dilaksanakan adalah kerjasama ekonomi, kerjasama sosial, kerjasama kebudayaan, kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kerjasama politik. Bahkan, ASEAN berhasil mengambil beberapa keputusan penting, seperti menjadikan wilayah Asia Tenggara sebagai ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom, and Neutrality atau kawasan yang damai, bebas, dan netral) dan SEANWFZ (Southeast Asian Nuclear Weapon Free Zone atau ASEAN kawasan bebas senjata nuklir)

3.2.  Saran
Bentuk kerjasama OKI dan Keorganisasian baik yang regional maupun internasional harus terus ditingkatkan guna terpenuhinya kesejahteraan dan keamanan kawasan. Peran Indonesia harus lebih terlihat lagi supaya Indonesia mempunyai daya tawar yang tinggi agar negara-negara anggota lembaga-lembaga kerjasama regional dan internasional membantu Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi.






DAFTAR PUSTAKA